Minggu, 20 April 2014
Buku Sang Kalajengking
Ketika harga diri adalah harga mati buat kita berdua
Menunduk merupakan cabikan logika
Saat kau mendangak bagaikan dewa
Sayatan lidah pada hati adalah rutinitas
Perisai berkarat kau tancap dengan pahatan ekor kalajengking
Goresan nanah kau pahat dengan bangga
Ketika kalajengking saling beradu
Dulu tentang siapa yang paling kuat berdiri
Tanpa tunduk tuk jatuhkan harga diri
Selembar berlembar tanggal bulan dan tahun mulai berganti
Cabikanmu tak pernah tersaingi
Dalam ukiran tawa kupendam tangis kecewa berbuah amarah
Lubang kubur buku hitam ku gali dan ku pendam
Air laut mengikis tangga kerajaan
Tahtamu mulai goyah
Air pasang mendobrak hati nurani
Tuh kikiskan sang kalajengking berhati besi
Kerajaan yang ku pahat dengan tubuh terukir sayatan nanah
Tak kan mudah tumbang
Kau lepas mahkota munuruni tahtamu
Berjalan menuju kerajaanku sambil tertunduk melambai
Gelegar emosi coba kututup saat pintu mulai kau buka
Uluran tangan dengan pecahan kaca yang pernah kau lempar
Kupandang dengan tatapan benci penuh emosi
Tersenyum tunduk kau susun pecahan
Mencoba menghapus nanah pada pahatan tubuh ini
Kuburan buku hitam terkoyak mulai bangkit
Terbuka lembaran darah dengan irisan perisai berkarat
Puing kaca dan berlembar kertas hitam mulai kau susun
Ku tetap membisu
Baitan irama penenang hati terlantun
Menutup semua pintu keraguan yang pernah muncul
Kulepas mahkota harga diri
Tertunduk memungut serpihan hati
Kuulurkan buku hitam tentang kalajengking yang saling beradu
Terukir bibir rasa pahit saat beberapa lembar mulai disusun
Selsaikan buku hitam ini
Tutup dan kubur
Ukir lebaran baru
Mulai bersanding dua kalajengking dengan buku baru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar